TeknoFlas.com – Sebuah stategi baru yang digagas Kementerian Kesehatan (Kemenkes) demi Indonesia bebas asap rokok. Berguna untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia, maka pemerintah berusaha menetapkan strategi baru.

Salah satunya adalah adalah menolak perokok yang akan melamar CPNS 2014 di lingkungan Kemenkes dan pos-pos pekerjaan bidang kesehatan di pemerintah daerah.

Lowongan CPNS Kemenkes 2014: Perokok Bakal Ditolak Ikut Tes

Menkes Nafsiah Mboi yang melontarkan langsung gagasan itu menyampaikan bahwa teknis saringannya akan dibahas dengan panitia pengadaan CPNS 2014. Nafsiah sangat khawatir terhadap komitmen tidak merokok oleh masyarakat Indonesia yang masih rendah.

Mengingat cara-cara ekstrim telah dilalui dengan berbagai contoh, misalnya mencantumkan gambar penyakit-penyakit akibat menghisap rokok di bungkus rokok.

Nafsiah menjelaskan “Jangan terima pegawai-pegawai (PNS) kesehatan yang perokok. Bikin malu saja,” tandasnya di sela acara penghargaan Lomba Sekolah Sehat di Jakarta, seperti lansiran JPNN Selasa (19/8/2014).

Menurutnya masyarakat perlu edukasi yang baik untuk tidak merokok. Nafsiah mengaku prihatin ketika ada pegawai kesehatan yang menyerukan stop merokok, padahal dia sendiri perokok.

Gagasan untuk menolak lamaran CPNS terhadap perokok direncanakan akan diterapkan dulu di lingkungan Kemenkes. Kemudian diharapkan menular ke pemerintah daerah yang juga menerima tenaga medis. Meliputi posisi atau formasi dokter, perawat, bidan, dan sejenisnya.

Nafsiah menyayangkan dikalangan guru yang seharusnya menjadi teladan ternyata menjadi perokok aktif. Menurut Nafsiah budaya merokok di Indonesia sangat akut. Bahkan di lingkungan sekolah, anak-anak SD sudah berani merokok. Sayangnya pula para gurulah yang sering memberi mereka contoh merokok di lingkungan sekolah.

Nafsiah menjelaskan bahwa peningkatan komitmen tidak merokok itu harus diinstruksikan bersamaan dalam lintas kementerian. Usaha ini tidak dapat diserahkan sepenuhnya ke Kemenkes saja. “Pengetahuan untuk tidak merokok perlu sistematis dan teratur,” tegasnya.

Nafsiah mengutip hasil riset kesehatan dasar (rikesdas) 2013 yang berkaitan dengan data perokok belia ini. Disitu terungkap bahwa 18,3 persen anak usia 15-19 tahun adalah perokok. Sangat mengerikan melihat fakta perokok belia itu. “Sangat wajar kalau nanti banyak kasus stroke di usia 30 tahun sampai 40 tahun,” ujarnya.

Akibat lain terhadap tingginya perokok di Indonesia ialah, potensi kebangkrutan sistem jaminan kesehatan nasional (JKN). Nafsiah mengatakan bahwa ditemukan banyak kasus penyakit tidak menular pada sistem asuransi massal yang dikelola Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tersebut.

Penyakit tidak menular itu salah satunya disebabkan oleh dampak kebiasaan merokok. Dana klaim dari BPJS Kesehatan dapat terkuras habis untuk membiayai pengobatan penyakit-penyakit yang seharusnya dapat dicegah. “Saran saya jangan merokok, atur gizi serta berolahragalah dengan rutin,” tandasnya.