TeknoFlas.com – Mangasa Sipahutar yang merupakan Pengamat dari Management and Economics Development Studies (MECODEstudies), menilai bahwa PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berpotensi menjadi bank konsolidator mengingat kinerja keuangan kedua bank plat merah itu terbilang baik.

MECODEstudies: Bank Mandiri dan BRI Layak Menjadi Bank Konsolidator

Sipahutar menyatakan “Kedua bank itu layak jadi pemimpin konsolidasi. Siapa pun dari dua bank itu menjadi pemimpin, tidak jadi masalah,” di Jakarta, Minggu.

Dilansir laman AntaraNews Selasa, (7/10/2014) Bank Mandiri merupakan pemilik ekuitas permodalan dan aset paling besar sedangkan bank BRI merupakan peraih laba bersih tertinggi di Tanah Air. Sipahutar juga menyarankan agar kementerian BUMN dan pemerintah jangan hanya berwacana mengenai konsolidasi perbankan, tanpa pernah dilaksanakan sama sekali.

Ia juga sempat mempertanyakan alasan kebijakan kepemilikan tunggal (single presence policy/SPP) dari Bank Indonesia tidak pernah diberlakukan kepada pemerintah. Padahal pemerintah memiliki empat bank BUMN.

“Padahal, bank-bank pemerintah lebih mudah digabungkan karena pemiliknya cuma satu, yakni pemerintah Republik Indonesia,” Sipahutar menegaskan. Tindakan pemerintah yang sering berwacana serta cenderung tidak mengonsolidasikan bank-bank BUMN, menurutnya justru membuat kinerja beberapa bank terus merosot.

Contohnya 15 tahun lalu, BNI masih menjadi bank terbesar di Indonesia, namun sekarang posisinya melorot menjadi bank terbesar keempat. Hal ini dikarenakan laba bank BNI yang terus menurun belum lagi Bank BTN yang kekurangan permodalan untuk ekspansi.

Wacana yang tidak segera terealisasi membuat konsolidasi bank akan disikapi ricuh oleh kalangan serikat pekerja. Lain halnya jika pemerintah langsung bersikap tegas maka dipastikan akan dipatuhi karyawan bank.

Sipahutar memaparkan, apabila pemerintah tidak kunjung mengonsolidasikan bank-bank BUMN, kepentingan asing akan semakin mendominasi industri perbankan nasional. Terlebih melihat kondisi saat ini dimana perbankan nasional hampir dikuasai asing melalui bank-bank swasta.

“Mereka tidak akan pro kepentingan rakyat ataupun pertumbuhan ekonomi. Makanya, segera lakukan konsolidasi perbankan,” tegasnya.

Sigit Pramono selaku Ketua Umum Perbanas, mengatakan negara yang sedang membangun seperti Indonesia, sangat membutuhkan policy bank (bank khusus).

Secara pribadi, Sigit mendukung konsolidasi perbankan, karena memang kebutuhannya dirasakan mendesak. Bahkan ketika dirinya menjadi direktur utama BNI delapan tahun yang lalu, dia telah menginisiasi untuk mengakuisisi Bank BTN berujung penolakan oleh karyawan Bank BTN

Dia menilai sangat diperlukan cetak biru perbankan nasional untuk 5-10 tahun mendatang, mengenai mau jadi seperti apa bank BUMN ke depannya. Cetak biru ini diharapkan setara dengan undang-undang sehingga dapat menjadi konsensus berbagai pihak, baik Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, pemerintah, termasuk DPR,

Sebagai contoh adalah negara tetangga Malaysia, melalui Bank Negara Malaysia telah mempunyai cetak biru pengembangan sektor keuangannya, untuk periode 2011-2020.