TeknoFlas.com – Loga kota Gudeng yang mengusung jargon ‘Jogja Never Ending Asia’akan segera diganti. Pemda DIY mempercayakan pihak MarkPlus pimpinan Hermawan Kertajaya untuk merancang logo baru. MarkPlus sudah merancang logo baru tersebut setelah melalui berbagai survei dan wawancara dengan para pemangku kepentingan di DIY. Namun demikian, logo dan ‘tag line’ baru yang rencananya akan dilaunching pada 25 November mendatang ini menuai kritik.

Logo Baru Jogja

Menurut keterangan dari Konsultan Komunikasi Visual, Sumbo Tinarbuko menyayangkan tampilan visual usulan rebranding logo dan ‘tag line’ baru DIY yang digulirkan Pemda DIY, meski secara konsep dinilainya bagus. Dari sisi visual, kesan Yogya tidak muncul sama sekali bahkan lebih metropolitan dan tidak menonjolkan atau merepresentasikan ciri khas kota tersebut. Rebranding tersebut seharusnya tetap mengacu pada nilai jual DIY selama ini yaitu aspek budaya dan heritagenya.

Ada persepsi yang berbeda tampaknya dari perancang logo baru tersebut, sebab apabila sentralnya Kraton Yogyakarta tentu saja warnanya garus memakai warna hijau. Dari aspek topografi atau pemilihan jenis huruf saja sudah tidak terbaca dengan jelas karena huruf J kedua di kata ‘JOGJA’ terputus dan visualisasinya menjadi U bukan J sehingga tampak terbaca ‘JOGUA’. Rebranding suatu kawasan itu pada prinsipnya harus komunikatif, koneksi dan brand ambassadornya.

“Secara visual saja sudah lemah, rebranding untuk sebuah kota yang memiliki ciri khusus seharusnya jangan dibuat seperti branding cafe, hotel dan lain-lain. Kalau mau rebranding suatu kawasan dengan konsep yang ditawarkan itu jadi masalah,” tandas Dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.

Sumbo mengaku dirinya menolak usulan logo baru tersebut karena Yogyakarta diarahkan kepada metropolitan. Branding pada intinya menjanjikan nilai lebih sebuah keistimewaan, keramahtamahan dan heritage yang dimiliki DIY. Bila mereknya saja sudah tidak nyaman maka muncul persepsi yang bisa disalahartikan dalam terjemahannya. Selain itu, tag line-nya kenapa harus menggunakan bahas Inggris, karena yang dijual adalah Yogyakarta adalah lokalitas kenapa tidak menggunakan bahasa Jawa.

“Ujung tombak brand itu sendiri adalah visualnya dan cara brand itu nantinya memperlakukan wisatawan dan masyarakatnya. Saya menyarankan pihak pembuat brand mengundang seluruh desainer-desainer yang paham tentang Yogyakarta kalau perlu dilombakan atau disayembarakan karena akan lebih memiliki. Yogyakarta adalah representasi dari Yogyakarta sendiri,” tandas Sumbo.

Ketua Asita DIY, Edwin Ismedi Himna mengaku sangat mendukung rebranding tersebut selama tetap mengacu pada nilai jual DIY selama ini di dunia pariwisata, yaitu budaya dan heritagenya. Kedua hal tersebut tidak bisa diubah dan wajib ada dalam logo baru nantinya. Pariwisata sudah menjadi pilar DIY sehingga pariwisata berbasis kebudayaan juga jangan sampai dihilangkan.

“Logo dan tagline yang lama sudah kadaluarsa dan tidak ada gaungnya sama sekali dalam menjual DIY. Meskipun dirasa sudah terlambat karena seharusnya diganti sejak lama, tetapi upaya ini tetap dihargai dan diharapkan sebelum dipublikasikan terlebih dahulu disosialisasikan kepada seluruh stakeholder,” pungkas Edwin