TeknoFlas.com – Sumarti Ningsih 25 tahun Tenaga Kerja Indonesia yang ditemukan tewas terpotong di dalam koper di balkon lantai 31 apartemen milik Jutting di Distrik Wan Chai, Hong Kong, Sabtu (1/11) ternyata memiliki cita-cita sebagai DJ atau disc jokie.

Sumarti Ningsih TKI yang Dibunuh di Hongkong

Sang pelaku pembunuhan, Jutting ditangkap oleh kepolisian Hong Kong berdasarkan pengakuannya sendiri. Jutting mengakui dirinya psikopat dan telah keluar dari bank AS tempatnya bekerja, Merril Lynch.

Ningsih berangkat ke Hong Kong pada 2011 lalu untuk bekerja sebagai pekerja domestik. Dua tahun delapan bulan kemudian, Ningsih memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

“Hanya beberapa hari saja dia di kampung (Cilacap), dia kemudian ke Jakarta, katanya kursus DJ,” kata Suratmi, ibu korban seperti dilansir dari CNNIndonesia, Selasa (4/11/2014).

Ningsih bahkan sempat pulang ke kampung dan menunjukkan ijazah dari kursus disc jockey di Jakarta kepada ibunya.

Sumarti Ningsih, 25 tahun, kelahiran tahun 1989 ini, pertama kali bekerja ketika umur 18 tahun menjadi baby sitter, pengasuh bayi di Bangka.

Ningsih kemudian mencoba peruntungan dengan menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong ketika ia berumur 22 tahun.

Sekembalinya dari Jakarta berbekal ijazah disc jockey, Ningsih kembali menyatakan keinginannya untuk kembali ke Hong Kong pada awal 2014.

“Katanya dia akan kerja di restoran,” ujar Suratmi.

Namun, Ningsih menyatakan kepada ibunya dia harus menunggu beberapa bulan untuk memperbarui paspor. Sembari menunggu, Ningsih sempat berada di Yogyakarta untuk bekerja sebagai DJ.

Setelah mendapat paspor baru, Suratmi berangkat ke Hong Kong dan bekerja di sana selama empat bulan.

Ningsih kemudian kembali ke Indonesia untuk menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Hari raya Idul Fitri tahun ini juga dirayakan oleh Ningsih bersama keluarganya di Cilacap.

“Sudah tiga kali dia berangkat ke Hong Kong, dua kali pulang ke Indonesia,” kata sang ibu.

Suratmi mengungkapkan, anaknya terakhir kali meninggalkan rumah untuk berangkat ke Hong Kong tanggal 2 Agustus 2014. Kepada keluarga, Ningsih pamit untuk kembali bekerja di restoran.

Ahmad Kaliman, ayah Ningsih mengungkapkan ia terakhir kali berbicara dengan korban melalui telepon tanggal 15 Oktober 2014 lalu.

“Saya tanya keadaan dia di sana, dia bilang baik dan sehat-sehat saja,” kata Ahmad ketika dihubungi, Selasa (4/11).

Dalam kontak telepon tersebut, korban sempat mengungkapkan dia berencana pulang tanggal 2 November 2014.

Ahmad tidak mengira anaknya akan menjadi korban pembunuhan di sebuah komplek apartemen mewah di Hong Kong. Dia menyatakan tidak mempunyai firasat atau tanda apapun terkait insiden tragis tersebut.

Suratmi dan keluarganya yang berada di Cilacap mendengar kabar tragis itu pertama kali dari sepupu Ningsih yang bekerja di Macau.

“Ponakan saya yang bekerja di Macau memberitahu adiknya di Indonesia untuk melihat berita di internet, lalu adiknya itu yang memberitahu kami,” ungkap Suratmi.

Keluarga korban menginginkan jenazah korban dibawa pulang ke Indonesia untuk dimakamkan.

“Saya dan keluarga ingin jenazah di bawa pulang saja,” kata Suratmi.

enurut Wakil Konjen RI di Hong Kong Rafail Walangitan, hingga kini Konsulat Jenderal RI di Hong Kong tengah berkordinasi dengan Kepolisian Hong Kong, Kementerian Luar Negeri RI dan keluarga korban mengenai pengurusan jenazah.

“Masih belum tahu apakah akan dibawa pulang. Saat ini, korban disemayamkan di rumah duka di Victoria Public Mortuary di Hong Kong,” kata Rafail ketika dihubungi pada Senin (3/11).

Ningsih ditemukan ditemukan tewas di apartemen distrik Wan Chai, Hong Kong, yang disewa dengan harga sekitar Rp 40 juta per bulan.

Pelaku pembunuhan Ningsih diduga adalah Rick Jutting, seorang bankir lulusan Universitas Cambridge, sebuah universitas terkemuka di Inggris, Sabtu pekan lalu.

Insiden ini mengejutkan warga Hong Kong, karena peristiwa kriminal yang menyangkut kaum kelas ‘atas’ sangat jarang terjadi di wilayah otonomi Tiongkok itu.

Dikutip dar Reuters, dokumen pengadilan menyebutkan bahwa Jutting bekerja di Bank of America Corp. Bank tersebut mengatakan mereka memang pernah memiliki karyawan dengan nama seperti Jutting, namun menolak memberikan rincian lebih lanjut.

Polisi setempat menangkap Jutting pada Sabtu dini hari dan pada Senin (3/11), Jutting hadir di pengadilan lokal Hong Kong untuk tuduhan terhadap dua kasus pembunuhan.

Sumarti Ningsih meninggalkan seorang anak yang berusia lima tahun tahun di Indonesia.