TeknoFlas.com – Pemberitaan mengenai pembunuhan TKI di Hongkong yang bernama Sumarti Ningsih sedang heboh saat ini, menurut media dalam maupun luar negeri Sumarti Ningsih berprofesi sebagai PSK, akan tetapi dari keterangan Sahabat dan kerabatnya mereka membantah bawa profesi wanita asal Cilacap ini bukanlah PSK.

Sumarti Ningsih

Eni Lestari, penasihat Asosiasi Buruh Migran Indonesia, seperti dilansir dari CNN Indonesia, Selasa (4/11/2014) mengatakan bahwa salah satu korban bernama Sumarti Ningsih, 25, bekerja sebagai disc jockey, DJ, di Jakarta dan datang ke Hong Kong untuk bertemu sahabatnya.

“Seorang sahabat Ningsih mengatakan pada saya bahwa dia bukan PSK, tapi turis. Mereka tidak terima jika Ningsih dikatakan PSK,” kata Eni.

Eni mengatakan bahwa sahabatnya itu sempat bingung saat Ningsih hilang, mengira wanita asal Cilacap itu telah pulang ke Indonesia, atau kemungkinan terburuk tertangkap polisi karena pelanggaran visa.

“Sebenarnya Ningsih sudah mengantungi tiket pulang dan jadwal terbangnya adalah tanggal 2 November. Sahabat dan teman-temannya shock saat tahu dia jadi korban pembunuhan,” lanjut Eni.

Sedangkan korban kedua diketahui bernama Jesse Lorena, diduga bukan nama sebenarnya. Eni menduga dia juga merupakan warga Indonesia.

“Ningsih sudah dikonfirmasi identitasnya karena kemungkinan di tubuhnya ada KTP atau paspor, sementara korban lainnya belum,” lanjut Eni.

Dugaan bahwa keduanya adalah PSK muncul selain karena lokasi pembunuhan di Wan Chai, sebuah distrik “merah” di Hong Kong, juga karena pelaku Rurik George Caton Jutting dikenal sebagai pria hidung belang.

Eni menduga ada hubungan intim antara Ningsih dan Jutting.

“Mungkin dia punya hubungan one night stand dengan pria itu. Bisa jadi bertemu di bar dan sreg. Dia bukan PSK, murni sebagai turis,” jelas Eni.

Wanita yang telah 14 tahun di Hong Kong ini mengatakan para pekerja migran asal Indonesia sangat kaget mendengar kasus pembunuhan ini. Saat ini, kata Eni, dia tengah berkonsultasi dengan keluarga Ningsih untuk pemulangan jenazah.

“Ada rencana jenazah dibakar di sini karena sudah membusuk. Tapi keluarganya ingin tetap dipulangkan dalam keadaan utuh,” ujar Eni lagi.

Kasus ini terungkap pada Sabtu dini hari pekan lalu saat polisi menggerebek apartemen Jutting dan menemukan dua mayat. Jasad Ningsih ditemukan di dalam koper dalam kondisi mengenaskan dan hampir membusuk.

Dalam dakwaan pengadilan awal kemarin, disebutkan bahwa Ningsih dibunuh pada 27 Oktober, sementara wanita kedua dibunuh pada 1 November.

Konsul Jenderal RI di Hong Kong, Chalif Akbar, mengatakan bahwa pengadilan lanjutan akan dilakukan pada tanggal 10 November mendatang, sementara rekonstruksi akan digelar pada tanggal 7 November.

Chalif mengatakan masih terus menunggu laporan dari polisi terkait identitas mayat kedua, yang kemungkinan besar juga WNI.

Dia juga mengonfirmasi bahwa Sumarti Ningsih datang bulan lalu dengan visa turis dan tidak melanggar overstay.

“Kami terus mendampingi persidangan dan mendesak pelaku bisa dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Chalif.

Dia mengaku belum tahu apa pekerjaan korban di Hong Kong. Namun terlepas dari apakah korban pekerja seeks atau bukan, Chalif menegaskan bahwa Ningsih adalah warga negara Indonesia yang patut dilindungi.

“Kami tidak melihat apa benar dia PSK atau bukan. Kami hanya melihat statusnya sebagai WNI. Selama dia WNI, berarti harus dilindungi,” kata Chalif.