Aktor kawakan Indonesia, Didi Petet, telah menghembuskan nafas terakhirnya di dunia pada hari Jumat (15/5) pagi. Sebelumnya, beliau sempat menitipkan pesan kepada sejumlah pelaku sineas Indonesia di ‘Hari Film Nasional’ ke-65 pada 30 Maret 2015 silam.

Didi berharap agar industri perfilman tanah air jangan sampai dijajah oleh film besutan luar negeri. Menurutnya, semua film Indonesia harus menguasai pasar di negeri sendiri tetapi selalu mengutamakan kualitas terbaik.

pesan terakhir didi petet
Pesan Terakhir Didi Petet (doc/wowkeren.com)

“Sebenarnya, film Indonesia saat ini sangat maju dan diminati masyarakat. Saya harap para sineas terus berkarya dan menghasilkan kualitas terbaik,” ucap aktor kelahiran Surabaya itu sebelum terbang ke Italia sebagai salah seorang penanggung jawab acara World Expo Milano 2015.

Tak ada yang menyangka usai pulang ke Indonesia, kabar duka Didi Petet meninggal dunia justru mengejutkan semua orang. Menurut salah seorang sahabat, Triawan Munaf, kondisi Didi kian memburuk usai pulang dari Milan.

“Tiga hari lalu setelah pulang dari Milan, kondisi beliau cenderung tidak membaik,” ucap Triawan, ayah dari penyanyi Sherina Munaf dan menjabat Kepala Badan Ekonomi Kreatif di pemerintahan Jokowi-JK.

Kini Didi Petet telah pulang menemui sang pencipta, namun pesan terakhirnya patut diingat selalu oleh para sineas. Beliau berharap agar karya terus berjalan dan meningkatkan kualitasnya demi menghibur masyarakat Indonesia.

“Para sineas harus membuat karya-karya besar yang bermutu. Itu harus selalu hadir dengan stabil,” ucapnya kala itu.

Menurut Didi, kunci utama agar perfilman Indonesia selalu berjaya ialah kehadiran sejumlah film baru secara stabil tanpa melupakan kualitas. Oleh karena itu, Didi berharap para sineas tanah air agar mau berpikir dan memutar otak, sebab menghasilkan film yang berkualitas bukan pekerjaan mudah.

Penyebab Didi Petet meninggal dunia menurut salah seorang keponakan, Muthia Kautsar, yaitu keluhan nyeri di bagian perut. Sementara menurut Triawan Munaf, Didi sempat pingsan saat menjalani tugasnya di Milan. “Dia kelelahan dan asam lambungnya naik,” ucapnya.

Saat tiba di bandara Soekarno-Hatta pada hari Minggu (10/5), Didi harus menaiki kursi roda. Bahkan dirinya sempat menjalani perawatan tetapi tak kunjung membaik. Sekarang jenazah almarhum berada di rumah duka yang berlokasi di daerah Ciputat, Tangerang Selatan.