Kasus ibu bunuh anak kandung kembali terjadi di Indonesia. Kali ini menimpa Eman Wijaya (12), warga Desa Tanjung Muning, Muara Enim, Sumatera Selatan, yang dihabisi nyawanya oleh sang ibu kandung, Lisma (53). Eman harus meregang nyawa karena sang ibu tersinggung dengan sikapnya yang enggan makan tumis kangkung.

Menurut pengakuan AKBP Nuryanto, Kapolres Muara Enim, awalnya pelaku tidak berniat membunuh korban. Beberapa menit sebelum kejadiaan naas itu, Eman – anak bungsu dari empat bersaudara – pulang ke rumah usai kumpul bersama teman-teman sebayanya.

ibu bunuh anak
tumis kangkung, pemicu ibu bunuh anak

Karena perutnya sudah lapar, dia pun pergi ke dapur rumah untuk makan. Namun saat melihat lauk hanya tahu goreng dan tumis kangkung, selera makan Eman pun hilang. Ia meminta sang ibu untuk memasak lauk yang lebih lezat.

Sayangnya, permintaan itu tidak dituruti oleh Lisma. Eman pun menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Sikap itu membuat pelaku naik darah dan langsung mengambil parang yang ada di dapur. Tanpa mengeluarkan kata-kata terakhir kepada sang anak, Lisma tega membacok anak kandungnya sendiri secara membabi buta hingga akhirnya menghembus nafas terakhir di tempat.

“Sebenarnya ini cuma masalah sepele. Korban hanya bosan dengan lauk pauk yang ada di dapur dan pengen makan enak. Tetapi pelaku terlanjur naik darah dan langsung membacok bertubi-tubi tanpa berpikir apa-apa,” ucap Nuryanto, Senin (1/6).

Nuryanto menambahkan, pelaku setiap hari hanya bisa memasak lauk sederhana seperti sayur bening dan tumis kangkung. Ini dilakukan demi menghemat pengeluaran bulanan keluarga, apalagi penghasilan suami tidak menentu karena bekerja sebagai penyadap karet.

“Bisa dikatakan bahwa ekonomi keluarga ini tergolong kurang mampu, dia dan suami setiap hari hanya bekerja sebagai penyadap karet,” ucapnya.

Lisma tanpa ampun menghabisi nyawa anak bungsunya yang berusia 12 tahun, Eman Wijaya. Korban tewas di tempat usai mendapat sejumlah luka bacokan di bahu, leher dan kepala belakang. Sang ibu akhirnya ditangkap beberapa jam kemudian oleh pihak kepolisian usai menerima laporan warga sekitar dan barang bukti berupa sebilah parang berlumur darah sudah diamankan. Pelaku diancam sejumlah pasal berlapis dan bisa saja mendekam lama di balik jeruji besi.