skizofernia-2-130829c

Teknoflas.com – Akan lebih baik jika para penderita gangguan jiwa tidak diberi cap atau stigma negatif, demikan kesepakatan para ahli kejiwaan. Mengapa? adanya dukungan sosial yang baik justru sangat disarankan bagi para penderita gangguan kejiwaan.

Mahar Agusno, seorang psikiatri, mengatakan bahwa dukungan sosial ini juga yang menyebabkan penanganan pasien gangguan jiwa di negara berkembang akan lebih baik daripada di negara maju. Sebagai contoh, orang skizofrenia tidak memiliki teman di rumah akan dikirim ke rumah sakit jiwa bahkan jika dinilai mengganggu akan dimasukkan ke penjara.

Budaya di negara berkembang tidak demikian, individu yang bersifat lebih kolektif maka pasien gangguan jiwa dapat tetap dirawat oleh keluarga yang memiliki hubungan erat satu sama lain. Bagi Mahar, inilah nilai plus tersendiri.
Pernyataan Mahar disetujui oleh salah satu pengidap Schizoaffective, Bambang.

Pasien yang mengalami masa-masa kelam ketika penyakitnya kambuh merasa bahwa dukungan sosial sangatlah membantu bahkan sebagai modal utama. Bambang pun merasakan demikian.
“Kunjungan keluarga waktu di rumah sakit mempercepat penyembuhan pasien, itu saya sendiri mengalami betul,” ujarnya.

Dengan adanya orang-orang yang mendukungnya, Bambang mulai berpikir realistis bahwa ia sedang sakit dan butuh pengobatan. Ia percaya bahwa orang sakit dapat sembuh.

Schizoaffective adalah salah satu kelainan mental yang memiliki gejala kombinasi antara gejala schizophrenia dan gejala gangguan afektif atau yang dikenal dengan gangguan mood.

Adanya fase mania dan normal dikupas secara mendalam dalam sebuah film yang mengisahkan kehidupan Bambang. Jika sedang kambuh, Yatmi, istri Bambang menceritakan bahwa suaminya dapat mengamuk begitu saja dan kepada siapa saja. Namun saat kondisi normal, Bambang terlihat seperti orang kebanyakan. Hanya saja stigma gangguan kejiwaan tersebut telah terlanjur diberikan kepadanya.

Akibatnya, Bambang tidak berani melamar pekerjaan karena lingkungan memberikan citra negatif sebagai orang yang mengidap gangguan jiwa. Bambang pun akhirnya bertukar peran dengan istri yang menjadi tulang punggung keluarga.

“Saya jadi berpikir lebih baik cacat fisik daripada harus cacat mental seperti saya ini,” tukasnya.

Kini kondisinya berubah, ia telah menjalani kehidupan normal. Walaupun Bambang sempat malu, namun ia tetap berharap kondisi normal seperti ini dapat berlangsung lebih lama.