Portrait of three young teenagers laughing and giving the thumbs-up sign.
Portrait of three young teenagers laughing and giving the thumbs-up sign.

Teknoflas.com – Depresi pada remaja ternyata dapat dilihat dari pola makannya. Pola makannya dapat terlihat seperti bertambah atau berkurang dari pola makannya. Dan sayangnya, pada remaja, perbedaan pola makan ini dapat terjadi lebih parah.

Seorang Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti, mengatakan, bahwa pada remaja tanda depresi dapat mengarah anoreksia maupun bulimia.

“Anoreksia dan bulimia memang berbeda dibandingkan depresi, tapi pada beberapa remaja kaitannya sangat erat sekali. Ada remaja yang depresi juga mengalami anoreksia dan bulimia,”ujar Anna dilansir dari CNN Indonesia.

Anoreksia adalah gangguan makan yang disebabkan oleh gangguan psikologis di mana penderitanya mengontrol asupan kalori secara ekstrim, membatasi makan, bahkan sangat terobsesi dengan berat badan. Sedangkan bulimia ialah gangguan makan yang serius dan berpotensi mengancam jiwa.

Penderita bulimia akan memakan makanan dalam jumlah berlebihan, kemudian mengeluarkannya dari tubuh secara paksa dengan muntah atau menggunakan obat pencahar.

Anna juga menambahkan bahwa dari sisi pergaulan, depresi pada remaja juga dapat terlihat. Biasanya hal tersebut ditandai dengan sikap untuk menarik diri dari lingkungan sosial.

“Remaja sangat suka bergaul. Kalau ada anak yang menarik diri dari lingkungannya, malas bergaul, maunya main gadget terus itu termasuk menarik diri dari pergaulan dan itu jadi indikator depresi,” tambah Anna.

Selain itu, kecanduan gadget juga ternyata dapat menjadi tanda-tanda seorang remaja depresi. Biasanya remaja menggunakan gadget untuk mencari  sumber kebahagiaan lainnya. Sehingga jika mereka kehilangan gadget dari tangannya mereka lebih mudah terserang akan depresi.

“Tandanya dia tidak bisa lepas dari gadget di mana pun, kapanpun. Maunya sama gadget terus. Ada bunyi suara ponsel misalnya, langsung mengira itu bunyi ponselnya dia,” ujar Anna.

Supaya depresi pada remaja tidak berkelanjutan, Anna menganjurkan orang tua agar memberi perhatian lebih pada anaknya. Terutama apabila pada anak terdapat perubahan sikap atau perilaku. Dengan adanya komunikasi yang baik, orang tua mampu berperan dalam meminimalisir depresi yang mungkin akan menyerang anak sewaktu-waktu. Terlebih, pergaulan anak yang kurang menguntungkan.