ASEANTeknoflas.com – Sepuluh negara yang tergabung dalam Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) dan Tiongkok, sepakat untuk merumuskan model baru kerja sama keamanan dan hukum, seiring dengan makin beragamnya ancaman keamanan di kawasan.

“Tantangan ancaman keamanan di waktu-waktu mendatang, akan semakin beragam. Dari ancaman tradisional menjadi ancaman non-tradisional,” kata Dewan Negara/Menteri Keamanan Publik Tiongkok Guo Shengkun dalam pertemuan tingkat menteri bidang keamanan ASEAN-Tiongkok di Beijing, Jumat.

Ia mengatakan ASEAN dan Tiongkok berada dalam kawasan yang sangat dinamis, termasuk dalam hal ekonomi. ASEAN dan Tiongkok berada dalam kawasan yang menjanjikan bagi pertumbuhan ekonomi dunia, artinya makin banyak tantangan keamanan yang dihadapi,” kata Shengkun.

Isu keamanan di kawasan ini merupakan persoalan yang kompleks termasuk kejahatan lintas batas seperti terorisme, perdagangan manusia, bencana alam, narkoba, masalah ketahanan energi, dan pangan yang memicu kriminalitas, serta kejahatan cyber.

“Tindak kejahatan terorisme kini makin memasuki tahapan baru, dengan baragam modus antara lain melalui internet, termasuk tindak kejahatan narkoba, yang makin mengancam keamanan kawasan karena melalui internet akan semakin sulit bagi aparat keamanan untuk melakukan penindakan,” tutur Shengkun.

Di sisi lain, masalah bencana alam, ketahanan pangan, dan energi juga makin meningkat, dan menjadi ancaman keamanan non tradisional yang harus dihadapi bersama antara ASEAN dan Tiongkok.

“Karena itu perlu ada kerja sama antara kedua pihak, seiring dengan makin beragamnya ancaman keamanan di kawasan, baik melalui kerja sama bilateral antara negara ASEAN dan Tiongkok, maupun kerja sama multilateral antara ASEAN dan Tiongkok, melalui mekanisme yang inovatif dalam kerja sama keamanan dan hukum,” kata Shengkun.

Pusat pertukaran informasi intelijen, katanya, merupakan hal penting yang harus ditingkatkan antara ASEAN dan Tiongkok sebagai bagian dari mekanisme baru kerja sama keamanan serta hukum antara kedua pihak.

“Saling bertukar informasi, bertukar pengalaman dan kemampuan, akan mampu membuat kita untuk dapat meningkatkan kapasitas, daya mampu untuk memelihara keamanan dan hukum di kawasan,” katanya.

Tiongkok, lanjut dia, siap mendukung masalah keamanan di kawasan dengan melakukan pelatihan program diploma bagi 2.000 aparat keamanan dari ASEAN dalam lima tahun mendatang.

Untuk mendukung saling tukar informasi, akan dibangun “video call” antara lembaga keamanan dan pejabat keamanan dalam penyelesaian masalah keamanan dan hukum di kawasan antara Tiongkok dan ASEAN, baik secara bilateral maupun multilateral.

“Tiongkok juga mengusulkan untuk mencontoh model penanganan masalah keamanan di sepanjang Sungai Mekong, antara Tiongkok, Myanmar dan Laos, khususnya dalam penanganan kejahatan lintas batas. Kami saling dukung, melakukan patroli rutin bersama, ini bisa dijadikan model dalam kerja sama ASEAN dan Tiongkok,” kata Guo Shengkun.

Dalam kegiatan tersebut, delegasi Indonesia dipimpin oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Pol Badrodin Haiti. Kapolri akan tampil sebagai salah satu pembicara dengan makalah bertajuk keamanan regional dan penanganan terorisme.

Perwakilan Vietnam dan Kamboja dalam pidato pembukaannya mengatakan kerja sama keamanan antara ASEAN dan Tiongkok sangat perlu untuk ditingkatkan baik dari sisi lingkup kerja sama maupun kemampuan, kapasitas, untuk menghadapi ancaman keamanan di kawasan yang makin beragam, khususnya ancaman non tradisional.