Worry_Ruminition_repetitive_thinking

Teknoflas.com – Ada beberapa orang yang merasa dirinya telah mati, setengah mati, atau bahkan tidak ada di dunia ini. Mungkin terdengar aneh, namun hal ini merupakan salah satu penyakit mental yang langka. Inilah yang disebut sebagai sindrom cotard.

Dijuluki juga sebagai ‘sindrom mayat berjalan’, sebuah kondisi ketika pasien percaya bahwa mereka telah mati, bagian tubuh mereka mati, bahkan mereka seutuhnya tidak ada. Kondisi ini masuk dalam penyakit kesehatan manusia, meskipun tidak diklasifikasikan di bawah Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Mental (DSM-V).

Yayasan penyakit mental Mind mengatakan bahwa kondisi ini berhubungan dengan psikosis, depresi klinis, dan skizofrenia. Dari Independent, juru bicara Mind mengatakan bahwa sindrom ini langka. “Sindrom cotard adalah khayalan yang biasanya dikaitkan dengan penolakan eksistensi diri,” katanya. Mereka mengalami delusi percaya bahwa mereka telah mati, sehingga tidak perlu menjaga diri mereka untuk hidup.

Ahli saraf Perancis, Jules Cotard, mengindentifikasi kasus pertama sindrom ini pada tahun 1800-an. Dia menggambarkan seorang perempuan menderita kondisi di mana dia merasa ‘tidak punya otak, tidak punya saraf, tidak punya dada, tidak punya perut, tidak punya usus. Hanya kulit dan tulang di tubuh yang membusuk.”

Esme Weijun Wang adalah orang yang pernah mengalami sindrom cotard. Dia menceritakan pengalamannya mengalami kondisi tersebut selama dua bulan. Wang menjelaskan bahwa setelah berminggu-minggu kehilangan ‘rasa terhadap realitas’, dia akhirnya terbangun. Dia mengatakan kepada sang suami, dirinya telah meninggal dunia satu bulan lalu ketika pingsan di pesawat.

Saya yakin telah meninggal pada penerbangan itu, dan saya berada di akhirat, dan tidak menyadarinya sampai saat itu datang.” Wang, yang sebelumnya didiagnosis dengan gangguan bipolar skizoafektif, akhirnya pulih. Dia sudah tidak melihat dirinya sebagai mayat membusuk lagi.

Pada tahun 2013, seorang laki-laki Inggris bernama Graham diwawancarai oleh New Scientist. Dia didagnosis menderita sindrom cotard setelah meyakini bahwa otaknya mati. Dia percaya jika dia sudah membunuh otaknya setelah percobaan bunuh diri karena depresi berat.

Graham menjelaskan kenapa selama ini kerap datang ke kuburan. “Tempat itu adalah yang terdekat di mana saya bisa mati.” Dia berkata, “Saya tidak perlu makan, atau bicara, atau melakukan apapun.” Namun dengan psikoterapi dan obat, kondisi Graham berangsur membaik.