Teknoflas.com – Seorang mahasiswa Indonesia bernama Akhmad Nadhil Rafdillah menjadi saksi serangan ISIS di Paris, tepatnya Stadion Stade de France, pada Jumat malam (14/11/2015). Saat itu dia dan tiga orang sahabat dekat pergi menonton pertandingan sepakbola antara timnas Prancis vs Jerman.

image
saksi indonesia terhadap serangan isis di paris

Nadhil menceritakan, para penonton di dalam stadion tidak mengetahui adanya peristiwa peledakan meski tiga kali mendengar suara ledakan bom dahsyat. Ledakan pertama tidak berpengaruh apapun bahkan penonton tetap asyik menikmati jalannya pertandingan, begitu pula dengan ledakan kedua yang terdengar 10 menit kemudian.

“Waktu itu penonton tidak panik dan tetap asyik menonton pertandingan. Ledakan pertama dan kedua sebenarnya terdengar begitu kuat, namun banyak yang mengira suara petasan,” ungkap Nadhil.

Saking serunya laga panas antara tuan rumah Prancis vs Jerman, penonton juga kembali tak menghiraukan suara ledakan ketiga sesaat babak kedua dimulai. Hingga pertandingan berakhir dengan kemenangan tim ‘Ayam Jantan’ dua gol tanpa balas, penonton tetap tidak mengetahui apapun.

“Selama laga berlangsung, bahkan saat jam istirahat, pihak panitia tidak memberitahu informasi apapun. Ketika pertandingan selesai, penonton dilarang keluar lewat pintu barat karena ada peristiwa kecelakaan. Pas lagi ngantri keluar, tiba-tiba antrian bagian depan heboh dan lari kembali masuk ke dalam stadion,” kenangnya.

Nadhil menambahkan, barisan antrian paling depan mendadak heboh dan lari masuk ke dalam stadion sambil berkata “Dia di sini, dia di sini..”. Kegaduhan membuat Nadhil terpisah dengan ketiga sahabatnya dan langsung mencari petugas stadion untuk menanyakan informasi.

“Mereka (petugas stadion) juga tak tahu apa-apa. Penonton yang ketakutan sampai lari ke tengah lapangan. Namun situasi kembali reda, dan akhirnya saya bertemu teman-teman dan keluar dari stadion sambil dijaga oleh pihak kepolisian,” ceritanya.

Saat Nadhil keluar dari stadion, ia tak mengetahui apapun perihal serangan ISIS di Paris. Namun ia melihat kafe dekat stadion dalam keadaan gelap dan diberi garis batas polisi. Ia pun berjalan menuju subway terdekat yang ramai antrian penumpang dan dijaga ketat oleh petugas keamanan.

Nadhil baru mengetahui adanya serangan ISIS di Paris ketika sampai di tempat hunian dan mencari informasi via media. Ia mengaku shock saat mengetahui ada sejumlah serangan ledakan yang menelan korban jiwa, yakni 129 orang tewas dan 352 orang luka-luka.