Teknoflas.com – Sebagian orang memilih tidur larut malam dan bangun kesiangan pada akhir pekan. Tindakan itu sengaja dilakukan sebagai bentuk hiburan usai beraktifitas kerja selama hampir sepekan. Sayangnya tindakan tersebut tidak dianjurkan oleh pakar kesehatan berdasar hasil studi terbaru.

image
Dampak negatif perubahan jam tidur

Pada hari kerja biasanya pekerja bangun lebih pagi dan tidur sebelum tengah malam agar bangun tepat waktu keesokan harinya. Namun ketika memasuki akhir pekan, pekerja memilih tidur larut malam dan bangun kesiangan dengan alasan ingin menikmati hari liburan lebih lama. Hasil studi dari University of Pittsburgh justru menyebut perubahan jam tidur berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. Ternyata perubahan jam tidur yang terjadi dalam seminggu mendorong peningkatan resiko sakit jantung, diabetes dan masih banyak lagi. Studi mengkaitkan sosial jetlag, yakni perbedaan antara pola tidur alami seseorang dengan tidur terjadwal yang dilakukan oleh pekerja.

Studi para peneliti di University of Pittsburgh melibatkan 447 responden yang mana 85 persen tidur larut malam dan bangun kesiangan saat libur hari kerja. Mereka yang melakukan perubahan jadwal tidur ternyata memiliki kadar kolesterol jahat lebih tinggi dan ukuran pinggang lebih besar. Menariknya, hasil tersebut juga sama berlaku pada mereka yang tengah diet dan rutin olahraga.

“Hasil studi kami menemukan bahwa perubahan jam tidur berhubungan langsung dengan beragam faktor resiko metabolisme yang picu diabetes dan penyakit kardiovaskular,” demikian kutipan dalam jurnal.

Oleh karena itu, peneliti menganjurkan para pekerja tidak mengubah jam tidur, baik hari kerja ataupun hari libur, sehingga resiko diabetes dan penyakit jantung bisa ditekan seminimal mungkin. Hasil studi ini turut memperkuat hasil studi lainnya yang menyebut tidur larut malam memicu penambahan lemak di dalam tubuh.