things-to-never-say-to-pregnant-woman

Teknoflas.com – Berdasarkan penelitian di AS, perempuan pengidap diabetes saat hamil kemudian berdiet rendah karbohidrat, ternyata tidak selalu menjaga kenormalan diabetes ketika bayi lahir.

Dilaporkan oleh Reuters, penelitian tersebut menemukan bahwa perempuan yang mengonsumsi makanan tinggi protein hewani tapi rendah karbohidrat malah akan meningkatkan risiko diabetes.
Sebaliknya, diet rendah karbohidrat dengan makanan tinggi protein nabati dan lemak dilaporkan tidak terkait dengan peningkatan risiko diabetes.

“Temuan kami menunjukkan bahwa sumber-sumber protein (nabati) dan lemak harus digabungkan dengan diet rendah karbohidrat untuk mengontrol gula darah,” jelas penulis utama studi Cuilin Zhang, peneliti di National Institutes of Health di Rockville, Maryland.

Penelitian ini berfokus pada diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh obesitas dan penuaan, terjadi ketika tubuh tidak cukup membuat hormon insulin dengan tepat untuk mengubah gula darah menjadi energi.

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam studi ini mengidap versi penyakit diabetes saat hamil yang disebut diabetes gestasional. Penyakit diabetes ini berangsur-angsur hilang setelah melahirkan namun dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 di masa depan secara signifikan. Hasil dari studi tersebut mengatakan bahwa risiko penyakit bahkan muncul lebih tinggi pada perempuan yang mengurangi karbohidrat dan mendapatkan sebagian besar lemak dan protein dari daging merah dan sumber hewani lain

“Perempuan dengan riwayat diabetes gestasional yang mengikuti pola makan rendah karbohidrat dapat mengonsumsi tumbuh-tumbuhan sebagai sumber protein, daripada sumber protein dari hewani dan lemak, untuk meminimalkan risiko diabetes tipe 2 di masa depan,” ungkap Zhang yang dilaporkan Rauters yang memulai survei ini sejak 1991 dan berlanjut hingga tahun 2001

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care ini. Hasilnya, jumlah tertinggi protein dan lemak dari daging merah dan sumber hewani lain dihubungkan dengan risiko diabetes 40 persen lebih tinggi dari peserta yang mengonsumsi dengan jumlah terendah.