a5d028f6-ac6c-40ec-bd5e-1e9821e39697_169

Teknoflas.com – Di sebuah studio kecil di pusat Kota Beirut, belasan perempuan pengungsi dari Suriah berlari dengan bertelanjang kaki. Mereka melakukan adegan drama tentang pengalaman sebagai imigran perang.

Suasana yang menarik dari studio kecil Kota Beirut yang tengaj melakukan drama sebagai imigran perang. “Kami pergi ke negara baru. Orang-orang menatap kami,” kata salah seorang artis dalam suaru adegan. Pemeran lain membuat drama menjadi lebih menghayati dengan tatapan menghina kepada para para pengungsi yang berhasil mencapai Lebanon setelah melarikan diri dari perang saudara di seberang perbatasan.

Mereka berharap, keterasingan yang dirasakan hanya bersifat sementara. Namun, kehidupan semakin lama semakin memburuk, tiada akhir untuk konflik yang terus terjadi di depan mata. Itulah yang menjadi tema besar pertunjukan Terrestrial Journey, sebuah proyek teater yang diselenggarakan oleh aktris keturunan Inggris-Irak Dina Mousawi.

Badan dunia PBB mengatakan bahwa 70 persen dari sekitar satu juta pengungsi di Suriah di Lebanon hidup dalam kemiskinan yang cukup ekstrem. Diperkirakan 200 ribu pengungsi anak-anak tidak mengenyam pendidikan formal.

Fedwa Awayti, yang kisah pribadinya juga ditampilkan dalam teater menceritakan haru-biru paksaan untuk melakukan migrasi membuat keluarganya tersebar. “Putri saya bertunangan di Lebanon, menikah di Turki, dan melahirkan di Swedia,” ceritanya.

Seorang anaknya berada di Swedia, sedangkan yang lain tewas terbunuh oleh penembak jitu di Yarmouk, setelah memutuskan tinggal di kamp untuk mendistribusikan pangan, ujarnya.

Pengalaman bermain teater menjadikan sebagai saran dan wadah kreativitas yang langka. “Kami memulai pagi dengan yoga agar mereka rileks dan melupakan kekhawatiran mereka. Ini berfungsi sebagai terapi,” kata Awayti.

“Kami hidup di bawah tekanan, tetapi dalam empat jam kami mendapatkan kekuatan dengan menceritakan kisah kami.”