Teknoflas.com – Menurut penuturan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, ada tiga faktor utama yang menyebabkan Panasonic & Toshiba tutup pabrik di Indonesia seperti dilansir dari laman Tribunnews, Kamis (4/2/2016). Benarkah demikian?

image
3 Penyebab Panasonic Dan Toshiba Tutup

Kondisi pasar yang sedang tidak kondusif dalam beberapa tahun terakhir dinilai sebagai faktor pertama lesunya industri elektronik milik Panasonic dan Toshiba. Pergerakan pasar domestik melambat disebabkan pengaruh besar dari pasal global yang mengalami hal serupa. Perlambatan tersebut justru berdampak buruk pada sebagian besar produk di pasaran yang tidak dilirik oleh konsumen. Menurunnya daya beli masyarakat juga dituding memberi dampak besar.

Pengakuan Said Iqbal berdasarkan ucapan manajemen Panasonic dan Toshiba, pabrik sengaja tutup bukan akibat tingginya upah buruh melainkan penurunan daya beli masyarakat dan sepinya pasar. Faktor kedua yaitu diberlakukan PP Nomor 78 Tahun 2015 mengenai pengendalian upah yang turut bertanggung jawab pada penurunan daya beli masyarakat.

Said menambahkan, buruh pabrik merupakan target utama para pelaku industri padat modal seperti industri elektronik, otomotif dan masih banyak lain. Diberlakukan pengendalian upah secara langsung bertanggung jawab pada penurunan daya beli hingga pelemahan tingkat konsumsi masyarakat. Adapun penyebab Panasonic dan Toshiba tutup pabrik yaitu ketidakmampuan pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam mengeluarkan paket kebijakan di tingkat implementasi yang berdampak buruk pada penutupan sejumlah perusahaan.

Faktor ketiga yang cukup berpengaruh menurut Presiden KSPI yaitu dikeluarkan retorika paket kebijakan demi menyenangkan hati investor. Padahal kenyataan di lapangan justru bertentangan, investor harus memantau terlebih dahulu sebelum ambil keputusan untuk datang ke Indonesia, apalagi hengkangnya sejumlah perusahaan.

Panasonic dan Toshiba yang memutuskan tutup pabrik bakal memicu PHK besar-besaran, sekitar 2.500 pekerja akan kehilangan mata pencarian. Dengan demikian, menurut Said sulit bagi pemerintah mengejar target tingkat pertumbuhan ekonomi 2016 mencapai 5,3 persen. Adanya pelemahan daya beli dan hilangnya mata pencarian ribuan orang, ia memprediksi tingkat pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 4,7 persen alias tak beda tipis dari 2015 silam.