keuangan syariahTeknoflas.com – Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sarjito mengakui belum ada insentif yang sangat nyata terhadap industri keuangan syariah.

“Makanya OJK berusaha agar ada insentif yang nyata itu karena kami juga berkoordinasi dengan perbankan syariah, pasar modal syariah, dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) syariah dan semuanya tentu saja akan kami kembangkan bersama-sama,” kata Sarjito di Jakarta, Rabu.

Ditemui usai konferensi pers “Perkembangan Industri Pasar Modal Syariah dan dan Penerbitan DES” di kantor OJK, Jakarta, Sarjito mengatakan selama ini insentif yang diberikan pihaknya adalah berupa kemudahan pungutan murah.

“Insentif-insentif lain sedang kami usahakan. Kami sedang diskusi dengan Kemenkeu mengenai soal perpajakannya
dan lain-lain. Kami juga dorong Kementerian BUMN agar anak usuhanya bisa menerbitkan sukuk,” tuturnya.

Terkait sisi perpajakan, Sarjito mengungkapkan bahwa hal itu masih di luar kontrol OJK, namun tentu saja pemerintah akan mendorong itu.

Sebagai contoh, kata dia, dulu Dana Investasi Real Estate (DIRE) syariah dianggap kurang menarik, tetapi dengan adanya hal-hal yang baru, DIRE syariah akan menarik walaupun belum dijalankan.

“Mungkin prosesnya sama saat kami meminta kemudahan untuk perpajakan agar tumbuh DIRE syariah di Indonesia,” ucap Sarjito.

Terkait DIRE syariah, ia juga mengatakan perlu dikembangkan karena merupakan produk investasi yang berkaitan
langsung dengan sektor riil.

“Hal ini karena adanya minat Manajer Investasi (MI) untuk menerbitkan DIRE syariah,” katanya.

Ia mengemukakan terdapat tiga urgensi terkait pengaturan DIRE syariah tersebut antara lain kepastian hukum, pemenuhan prinsip-prinsip syariah di pasar modal, dan pengaturan DIRE syariah di negara lain. Ia juga menyatakan DIRE syariah dapat menarik investor dari dalam dan luar negeri.