TeknoFlas.com – Achmad Fauzy (30), mahasiswa program pascasarjana (S-2) jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tewas saat mendaki Gunung Semeru. Penyebab meninggalnya Mahasiswa UGM ini karena tertimpa batu yang jatuh dari Gunung Semeru.

Penyebab dan Kronologi Meninggalnya Mahasiswa S-2 UGM saat Mendaki Semeru

Pria yang berasal dari Desa Tulaan, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh, itu mengalami luka parah di bagian kepala, dan tewas di lokasi kejadian, tepatnya di wilayah Watu Gede.

Jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, Jawa Timur, Selasa (4/11/2014) siang. Menurut keterangan Ketua Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Ayu Dewi Utari, korban berangkat bersama lima teman pendaki lainnya yang juga mahasiswa S-2 UGM.

“Mereka izin mendaki ke Pos Ranu Pani pada Minggu (2/11/2014) pada pukul 14.00 WIB dengan tujuan Kalimati. Pada pukul 17.00 WIB, rombongan berangkat mendaki dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo,” ujar Ayu di kamar jenazah RSSA Malang, Selasa, saat menyambut kedatangan jenazah.

Saat tiba di Ranu Kumbolo, tiga pendaki tetap tinggal di tempat, sementara tiga pendaki lainnya memaksa melanjutkan pendakian ke Kalimati.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan catatan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, keenam rombongan ini selanjutnya mendaftar untuk mendaki pukul 14.00.

Saat itu rombongan ini memaparkan tujuan pendakian mereka hingga Kalimati saja. Pukul 17.00, mereka pun berangkat menuju Ranu Kumbolo.

Di Ranu Kumbolo ini, tiga rombongan Ahmad memilih tidak melanjutkan pendakian.

Sementara, Ali, Ahmad dan Dedi meneruskan perjalanannya sampai ke Kalimati. Mereka lalu tiba ke Kalimati keesokan harinya, sekitar pukul 05.00.

Kendati sudah sampai di tujuan mereka, Ahmad dan dua rekannya ini tidak berhenti.

Mereka tetap meneruskan perjalanannya menuju semeru kendati angin saat itu berhembus kencang.

Menurut Dedi, Ahmad-lah yang paling ngotot meneruskan perjalanan tersebut. Apalagi, ketika itu juga ada dua rombongan lain yang juga naik ke puncak.

“Saya sudah tidak mau, tetapi dia tetap ngotot dan memberi batas waktu mendaki sampai jam 10. Kalau jam 10 belum tiba barulah kita turun,” kata Dedi.

Sayang baru dua jam meneruskan perjalanan cuaca sekitar Kalimati makin buruk.

Mereka yang baru sampai di Watu Gede (sekitar 400 meter dari puncak) kini menghadapi longsoran batu yang terjadi di lokasi itu.

Achmad Fauzi yang diduga tidak sigap akhirnya terkena batu seukuran satu meter. Batu itu menghantam area belakang leher Fauzi, dan membuatnya terjatuh, hingga terguling-guling.

Hidungnya keluar darah, dan nyawanya akhirnya tak tertolong.

Saat itu rombongan Achmad tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tetap bertahan di sini sampai badai itu reda.
Sekitar pukul 17.00, Ali turun, lalu melaporkan perisitwa ini pada petugas TNBTS di Pos Ranu Pane.

Walaupun laporan itu dilakukan Senin sore, petugas tidak bisa mengevakuasi Achmad segera.

Cuaca buruk menjadi alasannya. Jasad Pria yang sudah memiliki satu anak, dan bekerja sebagai PNS di Pemkab Aceh Singkil ini baru bisa dievakuasi oleh petugas sekitar pukul 09.30.

Jasadnya lalu dibawa ke RS Syaiful Anwar dan akan dipulangkan ke Aceh pada Rabu (05/11/2014) pagi