Teknoflas.com – Beragam mitos gerhana matahari total di Indonesia yang masih dipercaya oleh sebagian kecil masyarakat. Padahal tak ada kaitan sama sekali dengan kekuatan magis ataupun ilmu hitam, semua terjadi sesuai hukum alam yang bisa diungkap langsung via ilmu pengetahuan modern.

image
Mitos Gerhana Matahari Total Di Indonesia

Sebelum masyarakat Jawa mengenal ilmu pengetahuan alam, ada mitos yang menyebut bahwa gerhana terjadi karena raksasa jahat Rahu atau Batara Kala telah menelan matahari karena melampiaskan dendam kesumat pada Dewa Matahari. Guna mengusir kegelapan dan membantu Dewa Matahari mengatasi musuhnya, masyarakat diminta membuat suara gaduh alias berisik.

Berbeda dari mitos Jawa, masyarakat Maluku Utara justru mempercayai mitos bahwa suanggi atau setan merupakan pelaku utama yang menelan matahari. Agar langit kembali terang, masyarakat diminta membuat kegaduhan atau bunyi-bunyian bahkan ada pula yang menari.

Semua mitos gerhana matahari total di Indonesia sudah berlangsung sejak lama, namun mulai tergeser oleh waktu sering kesadaran masyarakat terhadap ilmu pengetahuan alam. Secara garis besar peristiwa alam ini tidak berpengaruh terhadap kehidupan manusia, lain halnya dengan hewan.

Gerhana matahari justru menipu hewan yang hidup di siang hari, mereka bakal bersiap untuk tidur karena mengira sudah malam. Lain halnya dengan hewan yang hidup di malam hari, mereka mulai bergerak karena mengira langit sudah gelap. Meskipun peristiwa gerhana matahari total hanya berlangsung 2-3 menit, dampaknya begitu besar. Hal senada turut diperkuat pernyataan dari Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin.

Sejumlah mitos gerhana matahari total di Indonesia kini tak berlaku lagi untuk sebagian besar masyarakat. Mereka lebih mempercayainya sebagai kejadian alam yang dibuktikan oleh ilu pengetahuan, meskipun begitu masih ada sejumlah pihak memanfaatkan momen langka tersebut untuk semedi demi kekuatan sihir.